Ketika Seorang Fotografer Temukan Keindahan Islam Melalui Keindahan Alam



Ibrahim Karlsson mengaku telah menjalani 25 tahun hidupnya tanpa benar-benar berpikir tentang keberadaan Tuhan atau kegiatan spiritual agama apapun. Ia menyebut dirinya seorang pria materialistis yang khas.

Ia masih begitu ingat sebuah cerita pendek yang ia tulis di kelas tujuh tentang kehidupan masa depannya, di mana ia menggambarkan dirinya sebagai programmer game yang sukses yang hidup dengan seorang istri Muslim. Pada waktu itu, 'Muslim' baginya berarti menggunakan pakaian yang panjang dan mengenakan kerudung, tapi ia tak pernah tahu darimana pikiran-pikiran tersebut berasal.

Saat SMA, ia menghabiskan banyak waktu di perpustakaan sekolah dan menjadi kutu buku. Pada satu waktu ia mengambil terjemahan Alquran dan membaca beberapa bagian. Ia tak ingat persis apa yang ia baca, tapi ia ingat betul bahwa apa yang dikatakan didalamnya masuk akal dan logis untuknya.

Namun Ibrahim menyebut kembali bahwa dirinya sama sekali tidak religius, ia tidak bisa menyesuaikan Tuhan dengan alam semesta, dan berpikir bahwa dirinya tidak membutuhkan Tuhan karena bagaimana alam semesta itu bekerja dapat dijelaskan dengan Newton.

Waktu berlalu ia lulus dari sekolah dan mulai bekerja. Ia mendapat uang dan pindah ke apartemen dan menemukan alat yang bagus di PC nya. Akhirnya menjadi seorang fotografer amatir yang bergairah dan terdaftar dalam kegiatan fotografi.

Dilansir OnIslam, Sabtu (17/8/2013), suatu hari ia mendokumentasikan pasar dan mengambil foto dari jarak jauh dengan lensa telenya, namun seorang imigran tampak marah datang kepadanya dan menjelaskan bahwa ia ingin memastikan bahwa Ibrahim tidak akan mengambil gambar lagi ibu dan saudara-saudara perempuannya. Pada saat itu ia berpikir orang-orang muslim begitu aneh.

Lebih banyak hal yang berhubungan dengan Islam terjadi dalam hidupnya, dan ada beberapa hal yang ia sendiri tak bisa menjelaskan mengapa ia melakukan hal tersebut. Ia tak ingat alasan dirinya menelepon Organisasi Informasi Islam di Swedia untuk memesan berlangganan newsletter mereka dan membeli terjemahan Alquran karya Yusuf Ali dan buku yang sangat bagus tentang Islam, 'Islam, Iman Kita'. 

Ia membaca hampir semua Alquran dan menemukan bahwa isinya indah dan logis. Tapi tetap saja, tidak ada tempat dihatinya untuk Allah saat itu, ia masih belum peduli. Satu tahun kemudian, sementara ia sedang berada di sebidang tanah yang disebut Pretty Island, yang benar-benar cantik, ia mengambil gambar warna musim gugur, ia kewalahan oleh perasaan yang fantastis akan keindahan yang ia lihat. Ia merasa seolah-olah bahwa dirinya adalah hanya bagian kecil dari sesuatu yang lebih besar yang disebut alam semesta.

Begitu indah, ungkapnya. Ia tak pernah merasa seperti ini sebelumnya, benar-benar tenang, namun penuh energi, dan di atas semua, ia benar-benar menyadari Tuhan ada dimanapun ia berada. Ia tak tahu berapa lama ia tinggal di tempat tersebut tapi akhirnya ia pulang.

Pada suatu ketika ia bertemu dengan mualaf Amerika bernama Shahida di forum Islam BBS (electronic bulletin board system), yang merupakan bagian yang paling menarik dalam layanan online Microsoft Network (MSN) yang ia punya. 

Mereka mendiskusikan Islam dan iman kepada Allah secara umum, dan segala sesuatu yang masuk akal bagi Ibrahim. 

Ibrahim mengatakan bahwa Shahida memiliki kesabaran malaikat untuk berurusan dengan pikiran lambat dan pertanyaan konyol dari dirinya, tapi Shahida tidak pernah menyerah membantunya dan mengatakan untuk mendengarkan kata hati kita sendiri.

"Dengarkan hati Anda, dan Anda akan menemukan kebenaran," ujar Shahida kepada Ibrahim.

Akhirnya Ibrahim menemukan kebenaran dalam dirinya lebih cepat dari yang ia duga. Dalam perjalanan pulang dari kantor, ia naik bus dan sebagian besar orang di sekitarnya sedang tidur. Ia mengagumi matahari terbenam, yang melukis awan dengan warna-warna indah tersebar dengan pink dan oranye. 

Suatu pagi ia bangun, pikirannya begitu jernih, dan pikiran yang pertama muncul dalam dirinya adalah bagaimana bersyukur kepada Tuhan yang telah memberinya peluang untuk dapat menghirup udara pagi. Begitu alami seperti selalu merasakan hal tersebut setiap hari dalam hidupnya.

Setelah pengalaman tersebut ia tidak bisa lagi menyangkal keberadaan Allah. Tapi setelah 25 tahun menyangkal Tuhan, itu tidak mudah untuk mengakui keberadaan-Nya dan menerima imannya. 

Tapi hal-hal yang baik terus terjadi pada dirinya. Ia menghabiskan beberapa waktu di Amerika Serikat, dan pada saat ini ia mulai berdoa dan belajar untuk fokus pada Tuhan dan mendengarkan apa kata hatinya. 

Ibrahim kembali ke Swedia, Tuhan terus membimbingnya. Ia membaca lagi, dan akhirnya mendapat keberanian untuk mendatangi masjid terdekat dan bertemu dengan beberapa orang Muslim. Dengan kaki gemetar, ia pergi ke masjid, yang telah ia lewati beberapa kali sebelumnya, tapi tidak pernah berani untuk berhenti dan mengunjunginya.

Ia bertemu dengan orang-orang terbaik di masjid, dan ia diberi bahan bacaan lagi dan membuat rencana untuk datang dan mengunjungi rumah mereka. Apa yang mereka katakan kepada dirinya dan jawaban yang mereka berikan semua masuk akal. Islam menjadi bagian besar dalam hidupnya. Ia mulai berdoa secara teratur dan pergi berjamaah salat untuk pertama kalinya.

Ia menyelinap masuk dan duduk di belakang. Ia tak mengerti apa yang imam katakan tapi ia menikmati. Setelah khotbah, semua berkumpul berbaris dan melakukan salat dua rakaat. Ibrahim mengaku hal tersebut adalah salah satu pengalaman yang paling indah yang pernah saya miliki dalam perjalanannya menuju Islam. 

Perlahan-lahan, pikirannya mulai sejalan dengan hatinya, dan Ibrahim mulai membayangkan dirinya sebagai seorang Muslim. Tapi banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya, bisakah aku benar-benar masuk Islam? aku telah meninggalkan gereja negara Swedia sebelumnya, bisakah aku salat lima kali sehari? Bisakah saya berhenti makan daging babi? Bisakah aku benar-benar melakukannya? Dan bagaimana dengan keluarga saya dan teman-teman? 

Ia ingat apa yang saudara bernama Omar katakan padanya, bagaimana keluarganya telah mencoba untuk membawanya ke rumah sakit jiwa ketika ia menjadi mualaf. Bisakah aku benar-benar masuk Islam? tanyanya dalam hati.

Apa yang benar-benar membuat perubahan dalam dirinya adalah cerita berjudul "Twelve Hours" dari seorang wanita Inggris yang baru menjadi mualaf dan memiliki perasaan yang persis seperti yang ia alami. Ketika Ia membaca cerita tersebut, ia menangis dan menyadari bahwa dirinya tidak bisa menahan Islam lagi.

Saat liburan musim panas, Ibrahim berlibur dan menikmati segala keindahan dan anugerah yang diberi Tuhan untuknya. Ia pergi ke masjid, mendekati beberapa temannya dan memberitahu mereka tentang keinginannya untuk menjadi Muslim. Setelah salat, imam dan beberapa saudaranya menyaksikan saya mengatakan syahadat. "asyhadu al la ilaaha illa l-Laah wa asyhadu anna muḼammadar rasuulu l-Laah. Alhamdulillah.

Untuk membuatnya lega, semua keluarga dan teman-temannya menerima keputusannya untuk memeluk Islam dengan baik. Namun ia tak bisa mengatakan mereka senang atau tidak akan keputusannya karena mereka tidak dapat memahami semua ibadah seperti salat lima kali sehari dan tidak memakan daging babi yang ia lakukan. Ia hanya tahu mereka berpikir bahwa kegiatannya itu adalah kebiasaan asing yang aneh yang pada sendirinya akan mati oleh waktu, tapi ia akan membuktikan bahwa mereka salah, Insya Allah!


[source; http://ramadan.detik.com/read/2013/08/18/112627/2333194/631/ketika-seorang-fotografer-temukan-keindahan-islam-lewat-keindahan-alam]

Jangan sampai ketinggalan postingan-postingan terbaik dari Ketika Seorang Fotografer Temukan Keindahan Islam Melalui Keindahan Alam. Berlangganan melalui email sekarang juga:


BACA JUGA LAINNYA:

0 Response to "Ketika Seorang Fotografer Temukan Keindahan Islam Melalui Keindahan Alam"

Posting Komentar

Terimakasih atas komentarnya sahabatku semuanya. Jangan bosan-bosan berkunjung ke Amru Site ya...